Marahnya Orang Ramah

KH Mustofa Bisri dan KH M. Zainul Majdi (Foto : Istimewa)

NUKITA.ID, MALANG"Pak Kyai, apakah panjenengan tidak marah dihina begitu?"

"Tuanku guru, kenapa begitu mudah kau maafkan mulut rasis dan pencaci itu?"

Mungkin itu beberapa pertanyaan yang menggelantung dalam benak kita. Sosok yang begitu dihormati seperti Gus Mus dan Tuanku Guru Bajang M. Zainul Majdi begitu mudah memaafkan orang-orang yang menghinanya.
Pertanyaannya selanjutnya, apakah sebenarnya beliau-beliau itu bisa marah? 
Sangat Bisa! Karena mereka juga manusia.
Apakah dalam ajarannya dilarang marah? 
Boleh! Bahkan wajib!! Jika yang tampak didepannya adalah kemungkaran.

“Siapa saja di antaramu melihat kemungkaran, ia harus mencegahnya dengan tangan. Jika tidak mampu (dengan tangan), dia harus mencegahnya dengan lisan. Dan jika tidak mampu (dengan lisan), dia harus mengingkarinya dengan hati. Dan cara yang demikian itu adalah pertanda lemahnya iman”(H.R. Muslim)

Bukankah jelas penghinaan bernada rasis itu adalah sebuah kemungkaran? Kenapa tidak marah? Berarti mengingkari sabda Rasulullah SAW?

Itulah bedanya orang-orang yang mempelajari agamanya secara kaffah (utuh) dengan mereka yang sepenggal-penggal untuk menuruti hawa nafsunya. Beliau adalah orang-orang yang bisa menempatkan amarah pada tempatnya. Beliau faham betul bahwa menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mengejar manfaat. Menghindari perpecahan ummat jauh lebih bernilai dari melampiaskan kesumat. Beliau adalah orang-orang yang (InsyaAllah) mengharap Ridlo Allah dan berpijak pada sabda Rasulullah SAW yang lainnya: 

“Tidak ada suatu tegukan/hisaban yang akan memberikan pahala yang lebih besar di sisi Allah, kecuali tegukan amarah ketika seseorang hamba mampu menahannya semata-mata mencari Ridlo Allah.” (H.R. Ibnu Majah)

Oh, kalau begitu sabda Rasulullah SAW, saling bertentangan antara satu dengan yang lain? Ada yang mewajibkan marah, adapula yang menahan amarah?
Nah! itulah pentingnya memahami dalil-dalil agama secara kontekstual. Bukan sekedar tekstual.

Kalau begitu, enak dong! Mereka (orang-orang fasiq) bisa dengan leluasa menghina orang-orang mukmin pemaaf? 
Mungkin dimata dzahirmu jawabannya YA!

Tapi ingatlah, bahwa orang-orang yang hidupnya selalu mencari Ridlo Allah adalah orang-orang yang akan mendapatkan cinta dari Allah SWT. Jangan sekali-kali membuat Allah "cemburu" dan murka, disebabkan oleh kalian yang telah menyakiti orang-orang yang dicintaiNya. Bisa jadi Allah akan membalas menghinakanmu serendah-rendahnya atau dengan membangkitkan ghirah ummat untuk membela orang yang dicintainya dan dicintaiNya.

Wallahu a'lam bi shawab..

Oleh Ust. Fadly Abu Zayyan, Aktivis Pesantren

 

Berita Lainnya

berita terbaru

Media Lawan Covid-19

24/03/2020 - 09:03

berita terbaru
Bulan Rajab yang mulia

Anjuran Do'a panjang umur selama Bulan Rajab

26/02/2020 - 11:07

Comments