Ketika Tuhan Merasa Malu

Ilustrasi Bersodaqoh (Foto istimewa)

NUKITA.ID, MALANG – Oleh : Dr Zulfan Syahansyah
=====================================
(Salah satu kisah mengharukan yang terjadi pada masa kenabian sayyidina Musa as)
=====================================

Hiduplah pasangan suami-istri dalam kemiskinan yang teramat sangat. Mereka sabar menjalani nasib; hidup dalam kekurangan selama bertahun-tahun. 

Suatu ketika, saat sedang berbaring di atas kasur, sang istri berkata pada suamniya:
"Bukankah Musa itu seorang nabi yang sekaligus bisa berkomunikasi langsung (kalimun) dengan Allah?!"
"Iya, itu benar" jawab suami.

Si istri melanjutkan: "Terus, kenapa kita tidak pergi saja ke Musa agar berbicara langsung kepada Tuhan tentang kesusahan hidup kita selama ini; meminta agar kita jadi orang yang berkecukupan harta. Dengan demikian, kita bisa menjalani sisa hidup ini dengan sejahtera tanpa kekurangan satu apapun?!"
"Itu usualan yg bagus" jawab sang suami.

Keesokan harinya, pergilah mereka berdua menemui Musa as, dan menyampaikan apa yang mereka inginkan. 
Nabi Musa pun pergi ke satu tempat untuk berbicara langsung kepada Tuhan; menyampaikan apa yang diinginkan suami-istri tadi. 

Sesungguhnya Alla Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maha Suci Allah, tiadalah sesuatu sekecil apapun yang tidak diketahui-Nya, baik di langit juga di bumi.

Maka Allah pun berfirman: "Wahai Musa, katakan pada mereka: Aku akan membuat kehidupan mereka kaya raya dari karunia-Ku, tapi hanya setahun saja. Setelah itu, mereka akan kembali akan menjalani hidup dalam kemiskinan".

Maka datanglah Musa menemui suami-istri tadi, dan menyampaikan apa yang Allah katakan kepadanya.
Mendengar kabar itu, mereka sangat bahagia. Dalam sekejap saja,  rizqi mereka datang melimpah dari cara yang mereka tidak ketahui. 

Mereka pun menjadi golongan orang-orang yang kaya raya. Kehidupan mereka berubah; hidup sejahtera, makmur dan tidak kekurangan satu apa pun.

Kepada suaminya, sang istri berkata:
"Ingat, kita berkesempatan hidup bergelimang harta cuma setahun saja. Setelah itu kita akan kembali miskin"
"Iya, saya tahu" jawab suami.

Si istri melanjutkan: "Untuk itu, mari kita gunakan harta yang ada ini sebaik mungkin. 
Kita pakai untuk membantu orang yang kesusahan. Setelah setahun nanti, dan kita kembali miskin, orang-orang yg pernah kita bantu akan balik memberikan bantuan saat kita kesusahan, kan?!"
"Betul sekali, wahai istriku", jawab suaminya.

Mereka lantas membangun rumah-rumah untuk kaum duafa'. membantu setiap orang yang membutuhkan, dan menyediakan makanan serta minuman setiap hari, gratis untuk semua orang, baik penduduk setempat atau pendatang.

Kesibukan seperti itu terus mereka lakukan sepanjang waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Selama waktu itu juga, Nabi Musa as terus mengamati keadaan suami-istri yang diberi kesempatan menjadi orang kaya selama setahun itu.

Waktu setahun pun habis. Namun suami-istri itu  terus dalam kesibukan mereka menyediakan makanan dan menghormati para tamu. Mereka lupa batas waktu kekayaan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan melalui Musa as.

Setelah satu tahun berlalu, dan kehidupan suami-istri itu tetap saja kaya, bahkan semakin bergelimang harta. Nabi Musa lantas bertanya kepada Tuhan: 
"Wahai Allah, bukankah waktu mereka menjadi keluarga kaya cuma setahun saja. Waktunya sudah lama habis, namun mereka tak kunjung miskin"

Tuhan menjawab:
"Wahi Musa, Aku telah membuka pintu rizqi-Ku dengan berbatas waktu, sedangkan mereka membantu hamba-hambaku yang sedang kesusahan, hingga lupa waktu. Hal itu membuat Aku merasa malu. Wahai Musa, jika Aku buat mereka kembali miskin, itu berarti mereka lebih baik dari Aku. Tidak mungkin hamba lebih dermawan dibanding Tuhannya"

Maha Suci Engkau wahai Dzat Yang Maha Dermawan di antara orang-orang yg dermawan; Yang Maha pengasih di antata orang-orang yang mengasihi...

Mari kita perbanyak sodaqoh, sodaqoh, dan sodaqoh.

Berita Lainnya

berita terbaru
Bulan Rajab yang mulia

Anjuran Do'a panjang umur selama Bulan Rajab

26/02/2020 - 11:07

Comments